Inflasi

21.40 0 Comments A+ a-

Apa itu inflasi ?! 
Let see…

Di dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) yang berkaitan dengan mekanisme pasar sehingga dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.

inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi 

Inflasi bisa dikatakan sebagai indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. inflasi juga dapat diartikan sebagai peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.

(Sumber Wikipedia)

Penggolongan Inflasi

Inflasi itu sendiri terbagi dua yaitu Inflasi dari dalam negeri dan Inflasi dari luar negeri , kalo inflasi dari dalam negeri itu karena adanya deficit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan pangan menjadi mahal , nah kalo inflasi dari luar negeri itu karena harga barang impor naik sehingga biaya produksi barang luar negeri pun tarifnya ada kenaikan impor barang.

Inflasi juga dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga yaitu :

  1. Inflasi tertutup (Closed Inflation) : Kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu.
  2. Inflasi terbuka (Open Inflation) : Kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum.
  3. Inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflation) : Kenaikan harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang merosot.


Tingkat indikator inflasi :

  1. Inflasi ringan (kurang dari 10% per tahun)
  2. Inflasi sedang (antara 10% sampai dengan 30% per tahun)
  3. Inflasi berat (antara 30% sampai dengan 100% per tahun)
  4. Hiperinflasi (lebih dari 100% per tahun)
Bank sentral memiliki peran penting dalam mengendalikan inflasi , bank sentral pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian , Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.

Inflasi di Indonesia tinggi pada zaman Presiden Soekarno, karena kebijakan fiskal dan moneter sama sekali tidak prudent (“kalau perlu uang, cetak saja”). Di zaman Soeharto, pemerintah berusaha menekan inflasi - akan tetapi tidak bisa di bawah 10 persen setahun rata-rata, antara lain oleh karena Bank Indonesia masih punya misi ganda, antara lain sebagai agent of development, yang bisa mengucurkan kredit likuiditas tanpa batas. Pada saat reformasi mulai zaman Presiden Habibie, maka fungsi Bank Indonesia jadi mengutamakan penjagaan nilai rupiah.

Berikut kutipan mengenai inflasi
Tahun 2015 nanti akan menjadi sebuah tantangan besar bagi Indonesia. Berbagai isu domestik dan internasional akan terus menghantui kinerja perekonomian Indonesia kedepan. Kabar baiknya adalah, Indonesia masih tampak kuat dengan segala indikator makroekonominya. Data memperlihatkan bahwa selama lima tahun terakhir (2008-2014), ekonomi Indonesia mampu tumbuh rata-rata sebesar 5,9 persen (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya (2002-2007) yang tumbuh sebesar 5,1 persen (yoy). Tekanan inflasi pun sudah mulai melunak sebagai konsekuensi dari turunnya tren harga-harga komoditas di pasar internasional.

Namun kita juga seharusnya sadar bahwa pemilu demokratis yang telah kita lalui serta kegemilangan dalam mempertahankan pelbagai indikator ekonomi utama yang moderat ditengah krisis tidak lantas menyelamatkan kita dari terjangan krisis di masa mendatang. Beberapa indikator utama ekonomi utama seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai tukar rupiah masih akan dihantui pemburukan dengan kombinasi berbagai faktor eksternal dan internal.


Sumber kutipan dari materi seminar IEO'15 at FEUI